WELCOME TO MY WORLD!!!

Rabu, 24 Oktober 2012

ANALISIS TERHADAP RETORIKA POLITIK PARA KANDIDAT PILGUB DKI JAKARTA DEKADE 2014 (Studi Kasus Terhadap Fauzi Bowo dan Jokowi dalam PILGUB DKI Jakarta Putaran Ke - II)

KOMUNIKASI POLITIK ANALISIS TERHADAP RETORIKA POLITIK PARA KANDIDAT PILGUB DKI JAKARTA DEKADE 2014 (Studi Kasus Terhadap Fauzi Bowo dan Jokowi dalam PILGUB DKI Jakarta Putaran Ke - II) DISUSUN OLEH : Khairunnisa M. Ilyas Ali Herdina Rosidi JURUSAN KOMUNIKASI dan PENYIARAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH dan ILMU KOMUNIKASI UIN JAKARTA 2012 BAB I PENDAHULUAN DKI Jakarta adalah kota yang sangat besar, tidak mudah untuk mengatur kota sebesar ini. Masyarakat Jakarta sedang dihujani pertanyaan – pertanyaan siapa yang layak untuk mereka pilih menjadi Gubernur DKI Jakarta dekade 2014 ini? Pada umumnya masyarakat kini makin kritis serta informatif yang pastinya mereka sudah mengantongkan nama pilihannya yang akan dipilih. Mengingat kembali hasil perolehan suara pemilihan Calon Gubernur DKI Jakarta pada putaran pertama yang diselenggarakan pada tanggal 11 Juli 2012 ialah Joko Widodo dan basuki (43 %) dan disusul oleh pasangan Fauzi bawo dan Nachrowi Ramli (33 %), Hidatay Nur Wahid – Didiek Rachbini (12 %), Alex Noerdin – Nono (4,74), Faisal Basri – Biem Benyamin (4,99) dan Hendarji – Riza (2,05). Dua Calon Gubernur yang akan masuk ke putaran kedua adalah pasangan Joko Widodo – Basuki dan Fauzi Bowo - Nachrowi Ramli. Pada putaran pertama Jokowi dan pasangannya Ahok terbukti dapat memenangkan dalam putaran pertama. Ketika Jokowi menjabat sebagai Walikota Solo, beliau memang dikenal merakyat, tidak elitis, bersih dari korupsi dan prestasi – prestasi beliau sudah terdengar di kuping masyarakat Jakarta, inilah salah satu penyebab Jokowi mengapa beliau menjadi pemenang dalam putaran pertama. Begitu pula dengan lawannya dari incumbent, yakni Fauzi Bowo beliau mengumbar segala kinerja – kinerja yang telah terlaksana selama 5 tahun menjabat dan menyebarkan pula janji – janji baru untuk memperoleh simpati maupun dukungan dari masyarakat. Menyongsong untuk putaran kedua yang berjatuh pada tanggal 20 September 2012, kedua pasangan tersebut mempersiapkan strategi – strategi baru yang telah dipersiapkan oleh timsesnya masing – masing. Foke dan Jokowi masing – masing memiliki integritas yang berbeda. Keduanya merupakan kepala daerah yang masih aktif menjabat (incumbent), sehingga memiliki modal yang sama sebagai pemimpin kepala daerah. Menurut anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Martin Hutabarat, ada 2 faktor yang paling penting, yaitu kepercayaan publik terhadap integritas seseorang dan harapannya terhadap figur tersebut. Dan pastinya masyarakat bisa memilih siapa yang akan mereka pilih untuk menjadi Gubernur Jakarta pada putaran ke II. BAB II KASUS Melihat kinerja Fauzi Bowo atau Foke panggilan akrabnya selama 5 tahun masyarakat bisa menilai. Dimata masyarakat Jakarta Foke telah dianggap GAGAL sebagai Gubernur Jakarta dekade 2012. Diantaranya program kerja Foke seperti menambah jalan layang di daerah ibu kota, meng – ACC kan beberapa pengusaha – pengusaha untuk mendirikan mall di beberapa daerah pusat kota, itu hanya membuat kota Jakarta semakin padat dan macet yang tak ujung usai. Kini Foke hadir kembali mencalonkan dirinya sebagai Gubernur Jakarta dekade 2014. Citra Fauzi Bowi (Foke) pada saat ini kian menurun, ditambah lagi dengan beberapa peristiwa belakang ini yang menyangkut dirinya. Foke membuat strategi seperti Pilkada DKI 2007 yang telah ia menangkan sebagai Gubernur DKI Jakarta dekade 2012. Yaitu menggunakan “Konsep Blocking” dengan strategi penguasaan partai – partai pada level elite dimana Foke melakukan koalisi besar pada partai PKS, PPP, PAN, Demokrat dan Golkar. Karena akan sangat mungkin elite partai di DPP memberi endorsement ke Foke-Nara. (Gun Gun Heryanto kepada merdeka.com, Minggu (22/7) ). Partai – partai elite tersebut berpihak kepada Fauzi Bowo karena pertimbangan elektoral 2014, yaitu mereka sensitif atau sentimen terhadap partai PDIP dan Gerindra. Begitu juga dengan Joko Widodo atau Jokowi panggilan akrabnya, calon Gubernur DKI Jakarta, prestasi Jokowi menjadi Gubernur kota Solo masyarakat juga bisa menilai. Jokowi hadir sebagai sosok pribadi yang santun, tidak elitis, dan merakyat. Jokowi didukung oleh partai PDI P dan Gerindra. Strategi Jokowi – Ahok bersifat inovatif yang membuat banyak simpati masyarakat. Seperti halnya langsung turuk ke kampung, makan di warteg, jalan – jalan ke pasar, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat. Ditambah lagi pencitraannya sangat kuat, yang sasaran utamanya adalah masyarakat menengah kebawah. Tidak ada berita cacat di media mengenai Jokowi – Ahok. Apakah media bekerjasama atas pencitraan Jokowi – Ahok? Kemudian isu SARA, agama dan juga etnis digunakan lawannya sebagai alat “name calling” untuk menjatuhkan Jokowi – Ahok. Tapi dengan isu tersebut membuktikan bahwa masyarakat kita pada umumnya lebih melihat seorang figur yang menghasilkan Jokowi – Ahok memenangkan di PILGUB pertama. Pada putaran kedua Pemilihan Gubernur DKI Jakarta diyakini akan menjadi adu integritas antara Fauzi Bowo (Foke panggilan sapaannya) dan Joko Widodo (Jokowi). Masing – masing calon memiliki integritas. Timses Foke maupun Jokowi bekerja keras menyusun strategi untuk putaran kedua. Beberapa hari yang lalu, Jokowi dan pasangannya Ahok bersilaturrahmi ke sejumlah kandidat – kandidat calon Gubernur DKI Jakarta yang tidak lolos pada putaran pertama. Yakni, Hidayat Nur Wahid, Alex Nurdin, Faisal Basri, dan Hendarji. Tetapi sebenarnya apa motif dibalik agenda ini? Apakah semata- mata silaturrahmi atau ada negosiasi politik Jokowi dengan kandidat - kandidat PILGUB yang tidak lolos di putaran pertama. Kemudian disusul oleh Foke yang membuat program sahur keliling bareng warga, shalat tarawikh keliling, dan menyusun – menyusun kegiatan religius selama bulan puasa. Masing – masing kandidat memiliki strategi kampanye yang berbeda – beda, serta keduanya juga memiliki perbedaan dalam segi retorika politik. Retorika sangat berpengaruh dalam kampanye, karena di dalam pidato kampanye tersimpan propaganda memiliki daya pengaruh yang kuat dalam merayu politik. Retorika tersebut menggunakan suara berintonasi yang bagus, gerak tubuh yang meyakinkan, serta menggunakan kata – kata bersifat persuasif. BAB III TEORI A. PENGERTIAN RETORIKA Gaya komunikasi seseorang juga dapat dilihat dari retorika. Retorika adalah ilmu berbicara. Dalam bahasa Inggris, yaitu rhetoric dan dari kata Latin rhetorica yang berarti ilmu bicara. Bagi Aristoteles retorika adalah seni persuasi, suatu yang harus singkat, jelas dan meyakinkan, dengan keindahan bahasa yang disusun untuk hal-hal yang bersifat memperbaiki (corrective), memerintah (instructive), mendorong (suggestive) dan mempertahankan (defensive). Retorika berasal dari bahasa Yunani rhetorica yang berarti seni berbicara, pada awalnya sering dipakai dalam perdebatan di pengadilan atau dalam perdebatan antarpersonal untuk memengaruhi orang lain yang ada di sekitarnya dengan cara persuasif. Selain itu retorika juga dapat dipakai dalam menyusun argumentasi dan naskah pidato. Littlejohn mendefinisikan kajian retorika secara umum sebagai simbol yang digunakan manusia. Pengertian ini kemudian diperluas dengan mencakup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk memengaruhi lingkungan sekitarnya. Retorika adalah komunikasi dua arah, face to face, satu atau lebih orang (seorang berbicara kepada beberapa orang maupun seorang bicara kepada seorang lain) masing – masing berusaha dengan sadar untuk mempengaruhi pandangan satu sama lain melalui tindakan timbal balik satu sama lain. Retorika menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato. Sasaran persuasi timbal balik itu, tentu saja tidak perlu dibatasi hanya pada orang – orang yang turut dalam perdebatan: para ahli retorika dapat juga berusaha mempengaruhi pihak ketiga. Tujuannya adalah untuk membantu yang di persuasi dalam membangun citra tentang masa depan, masa untuk bertindak: melalui retorika, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan kepercayaan, nilai, pengharapan mereka. Ada dua aspek yang harus diperhatikan dalam retorika ini yaitu, pertama, pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik. Kedua, pengetahuan mengenai objek tertentu yang akan disampaikan dengan menggunakan bahasa yang baik tadi. Aristoteles menulis: “Persuasi tercapai karena karakteristik personal pembicara, yang ketika ia menyampaikan pembicaraannya kita menganggapnya dapat dipercaya. Kita lebih penuh dan lebih cepat percaya pada orang-orang baik daripada orang lain: ini berlaku umumnya pada masalah apa saja dan secara mutlak berlaku ketika tidak mungkin ada kepastian dan pendapat terbagi. Tidak benar, anggapan sementara penulis retorika bahwa kebaikan personal yang diungkapkan pembicara tidak berpengaruh apa-apa pada kekuatan persuasinya; sebaliknya, karakternya hampir bisa disebut sebagai alat persuasi yang paling efektif yang dimilikinya.” Retorika merupakan “art of speach” (seni berbicara). Yakni suatu bentuk komunikasi yang diarahkan pada penyampaian pesan dengan maksud mempengaruhi khalayak agar dapat memperhatikan pesan yang disampaikan secara baik. Retorika menggabungkan antara argumentasi pesan, cara penyampaian yang menarik serta kredibilitas diri pembicara, sehingga melahirkan impresi tertentu bagi khalayak. Dengan demikian retorika politik merupakan seni berbicara kepada khalayak politik, dalam upaya mempengaruhi khalayak tersebut agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh komunikator politik. Retorika mengandung banyak unsur persuasi, seperti unsur gaya dan keindahan yang mencakup suara yang berirama, intonasi yang bagus, kata – kata yang indah, serta postur dan gerak tubuh yang dapat menarik dan meyakinkan. Retorika merupakan komunikasi verbal dan nonverbal yang memiliki unsur persuasi dengan daya pengaruh yang kuat dalam merayu puiblik. Dengan adanya unsur persuasi yang melekat pada retorika, mendorong para politikus memanfaatkan retorika sebagai salah satu bentuk komunikasi yang efektif dalam merayu opini publik. (Hofsatter dalam Arifin, 1985, dikutip kembali dalam Arifin, 2010:214) B. SEJARAH PERKEMBANGAN RETORIKA Objek studi retorika setua kehidupan manusia. Kefasihan bicara mungkin pertama kali dipertunjukan dalam upacara adat: kelahiran, kematian, lamaran, perkawinan dan sebagainya. Pidato disampaikan pada orang yang mempunyai setatus tinggi. Dalam perkembangan peradaban pidato melingkupi bidang yang lebih luas. ”sejarah manusia”, kata Lewis Copeland dalam kata pengantar bukunya tentang pidato tokoh-tokoh besar dalam sejarah,”terutama sekali dalam catatan peristiwa penting yang dramatis, yang sering kai disebabkan oleh pidato-pidato besar. Sejak Yunani dan Roma sampai zaman kita sekarang, kepandaia pidato dan kenegarawanan selalu berkaitan. Banyak jago pedang juga terkena; dengan kefasihan bicaranya yang menawan”. Uraian sistematis retorika yang pertama diletakkan oleh orang Syracuse, sebuah koloni Yunani di Pulau Sicilia. Bertahun-tahun koloni yang diperintah para tiran. Tiran, di mana pun dan pada zaman apa pun, senang menggusur tanah rakyat. Kira-kira tahun 465 SM, rakyat melancarkan revolusi. Diktaktor ditumbangkan dan demokrasi ditegakkan. Pemerintah mengembalikan lagi tanah rakyat kepada pemiliknya yang sah. Di sinilah kemusykan terjadi. Untuk mengabil haknya, pemilik tanah harus sanggup meyakinkan dewan juri dipengadilan. Waktu itu, tidak ada pengacara dan tidak ada sertifikat tanah. Setiap orang harus meyakinkan mahkamah dengan berbicara saja. Sering orang tidak berhasil memperoleh tanahnya, hannya karena tidak pandai bericara. Untuk membantu memenangkan haknya di pengadilan, Corax menulis makalah retorika, yang diberi nama Techne Logon (seni kata-kata). Walaupun makalah ini sudah tidak ada dari para penulis sezaman, kita mengetahui bahwa dalam makalah itu ia berbicara tentang ”tehnik kemungkinan”. Bila kita tidak bisa memastikan sesuatu, mulailah dari kemungkinan umum. Seorang kaya mencuri dan dituntut dipengadilan untuk pertama kalinya. Dengan tehnik kemungkinan, kita bertanya, ”Ia pernah dicuri dan pernah dihukum. Mana mungkin dia berani melakukan lagi hal yang sama”. Akhirnya, retorika memang mirip ”ilmu silat lidah”. I. RETORIKA ABAD PERTENGAHAN Sejak zaman Yunani sampai zaman Romawi, retorika selalu berkaitan dengan kewarganegaraan. Para orator umumnya terlibat dalam kegiatan politik. Ada dua cara untuk memperoleh kemenangan politik: talk it out (membicarakan sampai tuntas) atau shoot it out (menembak sampai habis). Retorika subur pada cara pertama, cara demokrasi. Ketika demokrasi Romawi mengalami kemunduran, dan kaisar demi kaisar memegang pemerintahan, ”membicarakan” diganti dengan ”menembak” retorika tersingkir kebelakan panggung. Para kaisar tidak senang mendengar orang pandai berbicara. Abad pertengahan sering disebat dengan abad kegelapan, juga buat retorika. Ketika agama Kristen berkuasa, retorika dianggap sebagai kesenian jahiliah. Banyak orang kristen waktu itu melarang mempelajari retorika yang dirumuskan oleh orang-orang Yunani dan Romawi, para penyembah berhala. Bila orang memeluk agama Kristen, secara otomatis ia akan memiliki kemampun untuk menyapaikan kebenaran. St. Agustinus, yang telah mempelajari retorika sebelum masuk Kristen tahun 386, adalah kekecualian pada zaman itu. Dalam On Christian Doctrine (426), ia menjelaskan bahwa para pengkhotbah harus sanggup mengajar, menggembirakan, dan menggerakkan yang oleh Cicero disebut sebagai kewajiban orator. Untuk mencapai tujuan kristen, yakni mengungkapkan kebenaran, kita harus mempelajari tehnik penyampaian pesan. Satu abad kemudian, di Timur muncul peradaban baru. Seorang Nabi menyampaikan Firman Tuhan, “Berilah mereka nasiahat dan berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang menyentuh jiwa mereka” (Al-qur’an 4:63). Muahammad SAW, bersabda memperteguh Firman Tuhan ini, “Sesungguhnya dalam kemampuan berbicara yang baik itu ada sihirnya” Ia sendiri seorang pembicara yang fasih dengan kata-kata singkat yang mengandung makna padat. Para dahabat bercerita bahwa ucapannya sering menyebabkan pendengaran berguncang hatinya dan berinang air mata. Tetapi Ia tidak hanya menyentuh hati, Ia juga mengimbau akal para pendengarnya. Ia sangat memperhatiikan orang-orang yang ada di hadapinnya, dan menyesuaikan pesannya dengan keadaan mereka. Ada Ulama yang mengumpulkan khusus pidatonya dan menamainya Madinat al-Balaghah (Kota Balaghah). Salah seorang sahabat yang paling dikasihinya, Ali bin Abi Thalib, mewarisi ilmunya dalam berbicara. Pada, Ali bin Abi Thalib, kefasiha dan kenegarawanan bergabung kembali. Khotbah-khotbahnya dikumpulkan dengan cermat oleh para pengikutnya dan diberi judul Nahj al-balaghah (Jalan Balaghah). Balaghah menjadi disiplin ilmu yang menduduki status yang mulia dalam peradaban Islam. Kaum Muslimin menggunakan balaghah sebagai pengganti retorika. Tetapi, wariasan retorika Yunani, yang dicmapakkan di Eropa abad pertengahan, dikaji dengan tekun oleh para ahli balaghah. Sayang, sangat kurang sekali studi berkenaan dengan kontribusi Balaghah pada retorika moderen. Balaghah, beserta ma’ani dan bayan, masih tersembunyi di pesantren-pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional. II. RETORIKA MODEREN Abad pertengahan berlangsung selama seribu tahun (400-1400). Di Eropa, selam periode panjang itu, warisan peradaban Yunani diabaikan. Pertemuan orang Eropa dengan Islam yang menyimpan dan mengenbangkan khazanah Yunani dalam perang salib menimbulkan Renaissance. Salah seorang pemikir Renaissance yang menarik kembali minat orang pada retorika adalah Peter Ramus. Renaissance mengantarkan kita kepada retorika modern. Yang memmbangun jembatan, menghubungkan Renaissance dengan retorika moderen adalah Roger Bacon (1214-1219). Ia memperkenalkan betapa pentingnya proses pisikologi dalam studi retorika. Ia menyatakan, ”..... kewajiban retorika ialah menggunakan rasio dan imajinasi untuk menggerakan kemauan secara lebih baik”. Rasio, imajinasi, kemauan adalah fakultas-fakultas psikologi yang kelak menjadi kajian utama ahli retorika modren. Aliran pertama retorika dalam masa modren, yang menekankan proses psikologi, dikenal sebagai aliran epistemologi. Epistemologi membahas ”teori pengetahuan”, asal-usul, sifat, metode, dan batasan-batasan pengetahuan manusia. Para pemikir epistemologi berusaha mengkaji retorika klasik dalam sorotan perkembangan psikologi kognitif (yakni yang membahas proses mental). Aliran retorika yang kedua dikenal sebagai gerakan belles lettres (Bahasa Prancis: tulisan yang indah). Retorika belletris sangat mengutamakan keindahan bahasa, segi-segi estetis pesan, kadang-kadang dengan mengabaikan segi informatifnya. Aliran retorika yang ketiga disebut gerakan elokusionis justru menekankan tehnik penyampaian pidato. Gilbert Austin, misalnya memberikan petujuk praktis penyampaian pidato, pembicara tidak boleh melihat melantur. Ia harus mengarahkan matanya langsung kepada para pendengar, dan menjaga ketenangannya. Ia tidak boleh segera melepaskan seluruh suaranya, tetapi mulailah dengan nada yang paling rendah, dan mengeluarkan suaranya sedikit saja; jika ia ingin mendiamkan gumaman orang dan mencengkram perhatian mereka. Dibawah ini diperkenalkan sebagaian dari tokoh-tokoh retorika mutahir: 1. James A Winans Ia adalah printis pengguna psikologi modren dalam pidatonya. Bukunya Public Speaking, terbit tahun 1917. sesuai dengan teori Jemes bahwa tindakan ditentukan oleh perhatian, Ia menerangkan pentingnya membangkitkan emosi melalui motif-motif psikologi seperti kepentingan pribadi, kewajiban sosial dan kewajiban agama. Cara berpidato yang bersifat percakapan dan tehnik-tehnik pidato merupakan pembahasan yang amat berharga. Winans adalah pendiri Speech Communication Association of America (1950). 2. Charles Henry Woolbert Dalam penyusunan penyiapan pidato, menurut Woolbert harus diperhatikan hal-hal berikut: (1) teliti tujuannya, (2) ketahui khalayak dan situasinya, (3) tentukan proposisi yang cocok dengan khalayak dan situasinya, (4) pilih kalimat-kalimat yang dipertalikan secara logis. Bukunya yang terkenal adalah The Fundamental of Speech. 3. William Noorwood Brigance Berbeda denga Woolbert yang menitik beratkan logika, Brigance menekankan faktor keinginan (desire) sebagai dasar persuasi. ”keyakinan”, ujar Brigance, ”jarang merupakan hasil pemikiran. Kita cenderung mempercayai apa yang membangkitkan keinginan kita, ketakutan kita dan emosi kita”. Persuasi meliputi empat unsur: (1) rebut perhatian pendengar, (2) usahakan pendengar untuk mempercayai kemampuan dan karakter anda, (3) dasarkanlah pemikiran pada keinginan, dan (4) kembangkan setiap gagasan sesuai dengan sikap pendengar. 4. Alan H. Monroe Bukunya, Principles and Types of Speech, banyak kita pergunakan dalam buku ini. Dimulai pada pertengahan tahun 20-an Monroe beserta stafnya meneliti proses motivasi. Jasa, Monroe yang terbesar adalah cara organisasi pesan. Menurut Monroe, pesan harus disusun berdasarkan proses berfikir manusia yang disebutnya motivated sequence. Dewasa ini retorika sebagai publik speaking, oral communication, atau speech communication diajarkan dan diteliti secara ilmiah di lingkungan akademis. Pada waktu mendatang, ilmu ini tampaknya akan diberikan juga kepada mahsiswa-mahasiswa di luar ilmu sosial. Dr. Charles Hurst mengadakan penelitian tentang pengaruh speech courses terhadap prestasi akademis mahsiswa. Hasilnya membuktikan bahwa pengaruh itu cukup berarti. Mahasiswa yang memperoleh pelajaran speech (speech group) mendapat skor yang lebih tinggi dalam tes belajar yang dan berfikir, lebih terampil dalam studi dan lebih baik dalam hasil akademisnya di banding dengan mahasiswa yang tidak memperoleh ajaran itu. Retorika berasal dari bahasa Yunani rhetorica yang berarti seni berbicara, pada awalnya sering dipakai dalam perdebatan di pengadilan atau dalam perdebatan antarpersonal untuk memengaruhi orang lain yang ada di sekitarnya dengan cara persuasif. Selain itu retorika juga dapat dipakai dalam menyusun argumentasi dan naskah pidato. Littlejohn mendefinisikan kajian retorika secara umum sebagai simbol yang digunakan manusia. Pengertian ini kemudian diperluas dengan mencakup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk memengaruhi lingkungan sekitarnya. Ada dua aspek yang harus diperhatikan dalam retorika ini yaitu, pertama, pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik. Kedua, pengetahuan mengenai objek tertentu yang akan disampaikan dengan menggunakan bahasa yang baik tadi. C. Retorika Politik Sejalan dengan perkembangan zaman, retorika juga berkembang menjadi kegiatan komunikasi yang baik kepada orang banyak khususnya dalam dunia politik. Dalam hal ini, retorika bergeser menjadi pernyataan umum, terbuka, dan aktual degan menjadikan masyarakat banyak sebagai sasaran untuk membuat persepsi yang diinginkan para komunikator. Hitler sendiri memberi definisi bahwa retorika politik adalah pers yang tidak tertulis, tetapi dipidatokan sebagai media propaganda untuk membentuk opini publik. Jadi, retorika politik dapat dipahami bahwa suatu kegiatan komunikasi yang menganut seni berbicara dengan cara persuasi untuk membentuk suatu opini terhadap apa yang dinginkan para komunikator kepada masyarakat khususnya masyarakat politik. Retorika pada dasarnya menggunkan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato. Sedangkan pidato adalah konsep yang sama pentingnya dengan retorika sebagai identifikasi atau sebagai simbolisme. Dengan berpidato kepada khalayak secara terbuka akan berkembang wacana publik dan berlangsung proses persuasi. Dan Nimmo menyebut pidato sebagai negosiasi. Dengan adanya retorika politik akan tercipta masyarakat dengan negosiasi yang terus berlangsung. I. Jenis-jenis Pidato Ada beberapa jenis pidato yang kita kenal berdasarkan ada tidaknya persiapan dalam berpidato, pada pidato politik dikenal empat jenis pidato yaitu: 1. Impromtu ( pidato yang bersifat mendadak ) yaitu pidato yang diucapkan secara spontan tanpa ada persiapan sebelumnya. Jenis pidato ini sesuai bagi juru pidato yang berpengalaman. Kelebihan dari jenis pidato ini lebih mengungkapkan perasaan pembicara yang sebenarnya, gagasan dan pendapatnya tampak segar dan hidup, dan memungkinkan seseorang terus berpikir untuk menyusun kalimat. Disamping itu kelebihannya adalah gagasan dan pendapat pembicara secara spontan. Namun kelemahannya adalah bagi yang tidak berpengalaman dapat mengakibatkan penyampaiannya tersendat-sendat, gagasan yang disampaikan bisa acak-acakan, dan kemungkinan besar mengalami demam panggung. Kemudian impromptu dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah karena pengetahuan dasar pengetahuan yang tidak memadai. 2. Memoriter ( pidato dengan menghafalkan kata – kata yang telah ditulis sebelumnya), yaitu pidato yang ditulis kemudian dihafal satu-persatu kata-demi kata. Jenis pidato ini memungkinkan ditulis dengan gaya ungkapan yang tepat, terorganisasi, terencana, pemilihan bahasa yang teliti, dan isyarat yang diintegrasikan dengan uraian. Akan tetapi bahayanya adalah bila suatu kata atau lebih hilang dalam ingatan atau lupa. 3. Manuskrip ( pidato yang menggunakan naskah ), yaitu pidato dengan naskah tertulis yang dipersiapkan sebelum tampil berpidato. Jenis pidato seperti ini diperlukan oleh tokoh-tokoh nasional sebab kesalahan kecil saja atau kesalahan satu kata saja dapat berakibat fatal bagi sipembicara. Selain itu, jenis ini dipake juga oleh para ilmuan dalam menyampaikan hasil penelitiannya dalam pertemuan ilmiah. 4. Ekstempore ( pidato yang memuat garis besarnya), yaitu pidato yang dipersiapkan sebelumnya beruapa topik khusus atau garis besar dan pokok-pokok penunjang pembahasan. Jenis pidato inilah yang paling baik dan paling sering digunakan para juru pidato. Komunikator hanya mengatur gagasan yang ada didalam pemikirannya sesuai dengan pedoman yang telah ditulis yakni garis-garis besar atau pokok-pokok pembicaraannya. Keberhasilan pidato politik sangat ditentukan oleh pembicara atau komunikator politik yang didukung oleh persiapan. Sesungguhnya pendengar bukan hanya mendengarkan pidato tetapi juga ingin melihat dan memberika penilaian terhada pembicara. Ketokohan, kredibilitas, dan popularitas seorang pembicara merupakan daya tarik atau daya persuasi tersendiri. II. Tipe – tipe Retorika Politik 1. Retorika Deliberatif Dirancang untuk mempengaruhi orang – orang dalam masalah kebijakan pemerintah dengan menggambarkan keuntungan dan kerugian relatif dari cara – acara alternatif dalam melakukan segala sesuatu. Fokusnya ialah pada apa yang akan terjadi di masa depan jika di tentukan kebijakan tertentu. Jadi, ia menciptakan dan memodifikasi pengharapan atas hal – ihwal yang akan datang. Di dalam seluruh tahap politik kita melihat retorika deliberatif. Ketika seorang menteri pertahanan meminta pembiayaan militer yang lebih dasar untuk menghindari ancaman dari kekuatan asing, menteri keuangan meminta ken aikan pajak untuk “meredam api inflasi ”, walikota kota – kota besar meminta bantuan pemerintah federal untuk mencegah kebangkrutan finansial di daerah – daerah metropolitan, dan sebagainya. 2. Retorika Forensik Ia berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak bersalah, pertanggungjawaban, atau hukuman dan ganjaran. Setting – nya yang biasanya adalah ruang pengadilan, tetapi terjadinya di tempat lain. Pemeriksaan pada musim panas tahun 1974 di depan komite Yuridis dari parlemen mengenai kemungkinan didakwanya Presiden Richard Nixon memberi peluang bagi wacana forensik, persis seperti semua acara di depan badan pengaturan pemerintah, pemeriksaan Komisi pengaturan Nuklir untuk mengizinkan pembangunan fasilitas nuklir, pemeriksaan Dewan Hubungan Perburuhan Nasional mengenai perselisihan buruh manajemen dan sebagainya. 3. Retorika Demonstratif Ini adalah wacana yang memuji dan menjatuhkan. Tujuannya adalah untuk memperkuat sifat baik dan sifat buruk seseorang, suatu lembaga, atau gagasan. Kampanye politik penuh dengan retorika demonstratif seperti satu pihak menantang kualifikasi pihak lain bagi jabatan di dalam pemerintahan. Dukungan editorial oleh surat kabar, majalah, televisi, dan radio juga mengikuti garis demonstratif, memperkuat sifat – sifat positif kandidat yang didukung dan sifat – sifat negatif lawannya. III. Teknik – teknik Retorika dalam Politik Menurut Littlejohn sebagaimana yang dikutip oleh Anwar Arifin di dalam bukunya bahwa ada lima karya agung retorika sebagai pusat tradisi kajian retorika, yaitu : 1. Penemuan (Inventio), ide-ide penemuan, pengaturan ide; bagaimana komunikator membingkai ide-ide tersebut dengan bahasa yang baik. Baik menyangkut topik maupun tekhnik persuasif yang akan digunakan. 2. Penyusunan (Dispositio); penyusunan simbol-simbol terutama yang berkaitan dengan orang dan konteks. Dalam kajian ini, komunikator harus menyusun atau mengorganisasikan pesan-pesan yang akan disampaikan kepada khalayak. 3. Gaya (Elucatio); komunikator harus memperhatikan penyajian dan penggunaan kata pada pesan yang akan diteruskan penyampaiannya kepada khalayak. 4. Daya Ingat (memori); komunikator tidak lagi mengacu pada penghafalan tetapi bagaimana menyimpan dan mengolah informasi yang ada pada ingatannya sehingga selalu diingat kapan dan dimanapun ia butuhkan. 5. Penyampaian (Pronuntiatic); komunikator harus siap selalu menyampaikan pesan jika dibutuhkan dan memperhatian vokal yang ia ucapkan atau intonasi suaranya serta gestur tubuhnya. Ada tiga tipe orator dalam retorika politik, yaitu: 1. Noble Selves: Orang yang menganggap dirinya paling benar, mengklaim lebih hebat dari pada yang lain, sulit dikritik. 2. Rhetorically Reflector: Orang yang tidak punya pendirian yang teguh, hanya menjadi cerminan orang lain. 3. Rhetorically Sensitive: Orang yang adaptif, cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. BAB IV ANALISIS KASUS Analisis kelompok kami mengenai retorika dari Fauzi Bowo dan Joko Widodo adalah, Fauzi Bowo menggunakan strategi kampanye dengan membentuk retorika politik. Gaya komunikasi Foke yang elegan, intonasi dari setiap suara yang beliau keluarkan semua terstruktur dan dibentuk. Pada saat ada acara debat politik dengan kandidat – kandidat PILGUB DKI Jakarta lain, Foke terlihat sangat terstruktur, busana maupun setiap tampilannya. Ada saatnya dia memegang kumisnya dan ada saatnya dia tersenyum. Busana Foke sendiri menggunakan baju betawi, yang terkesan “betawi banget” lain halnya dengan beberapa kandidat Cagub yang lain. Citra Foke dimata masyarakat sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Citra Foke kian hari makin menurun. Terutama dikalangan media, Foke selalu mempersulit media untuk mewawancarainya, dan sedikit terlihat agak sombong. Maka dari itu, Foke selalu dikabarkan berita – berita negatif mengenai dirinya dan masyarakat sendiri sekarang sudah bisa menilai Foke. Foke termasuk tipe orator kategori Noble Selves, yaitu rang yang menganggap dirinya paling benar, mengklaim lebih hebat dan sulit untuk dikeritik. Tipe retorika Fauzi Bowo adalah masuk dari kategori ekstemporer. Yaitu dipersiapkan terlebih dahulu berupa outline dan pokok – pokok penunjang pembahasan, Jenis pidato inilah yang paling baik dan paling sering digunakan para juru pidato. Komunikator hanya mengatur gagasan yang ada didalam pemikirannya sesuai dengan pedoman yang telah ditulis yakni garis-garis besar atau pokok-pokok pembicaraannya. Foke lebih unggul dalam retorika, terlebih dalam forum. Tapi masyarakat memilih lebih melihat figur, siapa yang lebih mereka kenal. Sedangkan Jokowi lebih merakyat dan menjadikan media massa yang menjadi alat kampanye terselubung, dia makan diwarteg agar terlihat dekat dengan rakyat, berdialog dengan warga sekitar dan tentunya menjadi perhatian media massa, gaya ngomongnya pun santai, terlihat seperti dekat dengan warga. Timses dari Jokowi sendiri mengaku tidak sulit untuk membentuk Karakter dari Jokowi. Karena Jokowi sendiri tampil apa adanya. Jokowi memakai strategi kampanyenya pada saat waktu beliau menjadi Cagub Solo. Sasaran kampanye utama Jokowi memnag masyarakat kelas menengah kebawah. Karena masyarakat itu sndiri jarang mengakses berita – beritaa, mereka lebih menyukai mengakses berita gosip dan menonton sinetron. Maka dari itu Jokowi berkampanye turun langsung ke kampung, gang demi gang yang ia telusuri. Karena pada saat kegiatan ini berlangsung akan di muat dimedia, dan masyarakat menengah keatas bisa melihat Jokowi dari berita online maupun media. Jokowi termasuk dalam orator yang retorically sensitive. Jokowi bukan orang Jakarta, tapi bisa cepat beradaptasi dengan suasana Jakarta. Kalau forum debat memang beliau menggunakan bahasa – bahasa keseharian dan tidak berteori. Beliau menggunakan bahasa yang ringan dan mudah di fahami oleh sema masyarakat. Kampanye Jokowi sendiri dia jual program pastinya, bukan janji – janji, dan sangat menarik. Jokowi juga mengumbar prestasi dia sebagai wali Solo dan menjadi salah satu Gubernur terbaik. Diangkatnya dia menjadi cagub oleh PDIP dan Gerindra salah satu alasannya adalah ia dianggap sukses membangun kota Solo. Jokowi sangat inovatif, dia selalu membuat hal – hal yang berbeda untuk menarik simpati rakyat dengan isu perubahannya. Citra Jokowi dan Ahok sangat bagus, walau terlempar isu – isu mengenai mereka. Melihat dari pidato Jokowi, beliau masuk dalam kategori Impromptu, ( pidato yang bersifat mendadak ) yaitu pidato yang diucapkan secara spontan tanpa ada persiapan sebelumnya. DAFTAR PUSTAKA Anwar Arifin, Komuniasi Politik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011) Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta: Gramedia, 2007) Drs. Wahidin Saputra M.A, RETORIKA MONOLOGIKA: Kiat dan Tips Praktis Menjadi Mubaligh, (Bogor: Titian Nusa Press, 2010) Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2003), cet.ke-3. (Aristoteles, 1954:45) dalam Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), cet.ke-25. Menyoroti Komunikasi Politik PARPOL, DITERBITKAN ATAS KERJA SAMA : BALAI PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA BANDUNG (BP2KI) BADAN LITBANG SDM DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA DENGAN PENERBIT SIMBIOSA REKATAMA MEDIA BANDUNG, 2009. Dan Nimmo, KOMUNIKASI POLITIK : Komunikator, Pesan, dan Media, (Bandung: PT. Renaja Rosdakarya), Cet.1 1989, Cet.2 1993. Gun Gun Heryanto, M. Si dan Ade Rina Farida, M.Si, KOMUNIKASI POLITIK, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah), Cet. 1, 2011. Gun Gun Heryanto, M. Si, DINAMIKA KOMUNIKASI POLITIK, (Jakarta: PT. Lasswell Visitama, 2011). INTERNET: http://news.okezone.com/read/2012/07/12/505/662194/jokowi-vs-foke-ibarat-pertarungan-calon-pejuang-dan-calon-pecundang. Diakses pada hari Rabu, 18 Juli 2012, pukul 19.43 WIB. http://fokus.news.viva.co.id/news/read/335022-adu-siasat-jokowi-dan-foke-di-putaran-ii . Diakses pada hari Rabu, 18 Juli 2012, pukul 20.05 WIB. news.detik.com/read/2012/07/25/070128/1974020/10/putaran-kedua-pilgub-dki-adu-integritas-foke-vs-jokowi?9922022 Diakses pada hari Kamis 19 Juli 2012, pukul 11.12 WIB.   LAMPIRAN Opini Akademisi Mengenai Retorika Politik Fauzi Bowo (Foke) – Joko Widodo (Jokowi): 1. Ade Irfan Abdurrahman ( Mahasiswa Uin Syarif Hidayatullah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Semester 9) “Menurut saya retorika politik Foke itu elitis (entah itu ilmiah atau di bentuk oleh tim suksesnya). Dalam beberapa kesempatan foke selalu tampil elegan dan berbicara dengan teratur dan rapih yang selalu mengatasnamakan pekerjaan dia sebagai seorang Gubernur. Sedangkan Jokowi lebih merakyat dan menjadikan media massa yang menjadi alat kampanye terselubung, dia makan diwarteg agar terlihat dekat dengan rakyat, berdialog dengan warga sekitar dan tentunya menjadi perhatian media massa, gaya ngomongnya pun santai, terlihat ndeso dan merakyat banget.” 2. Arsikh Mawaddaw Warohmah (Mahasiswi Universitas Nasional Jurusan Hubungan Internasional Semester 9) “Menurut saya retorika Jokowi cenderung lebih sederhana ketimbang Foke yang condong lebih birokrat dan baku, Karena target Jokowi lebih kepada massa golongan menengah bawah ketimbang Foke targetnya ke elit. Kelas menengah bawah cenderung lebih menyukai tata bahasa yang santai dan sederhana, ketimbang yang bake dan terlalu birokrat. Strategi keduanya juga berbeda, dan kedua strategi politik mereka makin kuat dan realis.” 3. Gana Buana ( Mahasiswa Uin Syarif Hidayatullah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Semester 9) “Kalau Pakde Joko itu dilihat dari background etnisitas tidak diraguin lagi, jelas – jelas dia wong jowo. Orang Jawa itu memang dikenal lembut, santun dalam bertutur kata, Pakde Jokowi memenuhi kriteria tersebut, kemudian beliau bisa termasuk dalam orator yang retorically sensitive. Jokowi bukan orang Jakarta, tapi bisa cepat beradaptasi dengan suasana Jakarta. Kalau forum debat memang beliau kurang, berbicara agak lemah, tapi beliau lebih match berada di lapangan, terjun langsung dengan gayanya yang “down to earth” dan tokoh yang populis. Dibandingkan dengan Foke, Foke lebih unggul dalam retorika, terlebuh dalam forum. Tapi masyarakat memilih lebih melihat figur, siapa yang lebih mereka kenal. Pendekatan Jokowi ke warga dan gaya berbicara yang lugu mungkin yang lebih bisa diterima di tengah masyarakat Jakarta.” 4. Eni Wibowo (Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Semester 9) “Saya kurang tau banget di Solo Jokowi seperti apa, tapi yang saya lihat dari kampanye Jokowi sendiri dia jual program pastinya, bukan janji – janji, menurut saya itu sangat menarik. Melihat retorika Jokowi dia low culture yang sesuai dengan target pemilih dia. Kalo Fauzi Bowo sih biasa aja, melainkan sok akademis, sok betawi, solusif dan tebar janji, gak ada bedanya dengan calon pada umumnya. Setiap Foke kampanye maupun acara debat politik, busana yang dia kenakan mencerminkan kalau dia adalah betawi banget atau cinta Jakarta, padahal kita selediki dengan kinerja dia selama ini tidak sebanding dengan apa yang pernah dia ucap.” 5. Luqman Karim (Alumni UNAS Jurusan Hukum dan Wartawan VIVAnews.com) Retorika Foke sama Jokowi itu beda banget. Kalau Foke yang saat ini sebagai incumbent bisa dibilang dalam retorikanya lebih banyak mengumbar apa yang sudah ia lakukan selama lima tahun belakangan. Makanya janji – janji kampanyenya banyak yang berisi sekolah gratis, pendidikan gratis, yang dianggapnya capaiannya selama lima tahun ia memimpin. Jokowi pun tidak jauh, ia juga mengumbar prestasi dia sebagai wali Solo dan menjadi salah satu Gubernur terbaik. Diangkatnya dia menjadi cagub oleh PDIP dan Gerindra salah satu alasannya adalah ia dianggap sukses membangun kota Solo. Jadi mereka ingin menularkan kesuksesan Solo di Jakarta. Marketing politiknya adalah langsung terjun kerakyat. Turun dari gang ke gang, keliling kampung, dan membuat pencitraan kalau antara dirinya dan rakyat tidak ada jarak. Ini bedanya dengan Foke yang Absen ketika waktu kampanye dan hanya mengandalkan pasangannya Nachrowi Ramli untuk turun ke lapangan, itupun tidak seperti Jokowi yang turun kampung to kampung.” 6. Haerul Faqih (Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Ilmu Hukum) “Pendapat saya tentang Jokowi adalah dia selalu membuat hal – hal yang berbeda untuk menarik simpati rakyat dengan isu perubahannya, sedangkan Foke dengan gaya memberi janji dan mengumbar prestasinya selama 5 tahun.” 7. Aimatunnisa (Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam) “Menurut saya, Jokowi itu rada mirip gaya komunikasinya dengan Obama, pertama Jokowi pengicau di twitter, ada yang bilang strategi Jokowi terinspirasi dengan Obama. Kedua, menggaet anak muda sebagai agent of change, walaupun jumlah follower Jokowi tak sebanding Obama. Ketiga, Jokowi menyerang rivalnya dengan cara pelan tapi pasti. Keempat, ketika Jokowi berpidato, punya gaya yang menarik seperti Obama, bahasanya sederhana, menggunakan bahasa keseharian, dan membuat masyarakat urban bisa lebih menerima keberadaannya dibandingkan dengan Cagub lain. Beda halnya dengan Foke, personality Foke itu kepribadian bentukan politikus kelas atas yang penuh retorika, bukan kepribadian dengan kacamata kelas kebawah, bisa dibilang Foke adalah simbol penguasa. Sedangkan Jokowi simbol rakyat jelata. Foke dengan menggunakan bahasa yang lugas, ceplas – ceplos, Foke seperti pemimpin Nazi Jerman, Hitler.” 8. Ahmad Fauzi (Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam) “Jokowi merupakan sosok pemimpin yang sederhana yang diidamkan oleh rakyat. Citranya dimedia sudah terlalu baik ketika masih menjabat Walikota Solo. Jokowi adalah Tipe pemimpin yang memiliki jiwa retorically sensitive yang cepat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Foke pemimpin yang dikenal memang sudah jauh dari media yang membuat citranya kian memperburuk dikalangan masyarakat. Foke termasuk kategori Noble Selves, orang yang menganggap dirinya paling benar, mengklaim lebih hebat dan sulit untuk dikeritik.”   WAWANCARA I. TIMSES Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli K.H. Muhammad Rusydi Ali, lahir di Jakarta, 10 Oktober 1954. Riwayat pendidikan di Perguruan Rakyat, kemudian STN Tekhnik Perkapalan dan STM Budi Utomo. Beliau adalah seorang ulama, bukan dari partai politik maupun marketing politik. Beliau ini adalah Dewan Penasihat Majlis Taklim “Al – Fawuz” Jakarta Selatan dan salah satu sahabat karibnya Fauzi Bowo sekaligus menjadi Timsesnya. Tokoh Masyarakat Kampung Melayu ini sangat dekat dengan Fauzi Bowo ketika beliau menjabat sebagai sekretaris Daerah dan hingga kini. 1. Seperti apa sosok Fauzi Bowo dan Nahrowi dimata bapak? J: Fauzi Bowo bisa dikatakan sebagai salah seorang profile pemimpin yang sangat ideal, sangat agamis selalu berpandangan terhadap nilai – nilai agama. 2. Ketika Foke sedang pidato kampanye ke warga, isi pidato yang disampaikan merupakan sesuatu yang baru di fikirkan atau sudah dipersiapkan terlebih dahulu? J: Foke sangat cerdas, dia melakukan sesuatu berfikir terlebih dahulu lalu bergerak. 3. Apakah Foke menggunakan naskah dalam berpidato? J: Foke tidak pernah menggunakan naskah dalam pidatonya. 4. Nahrowi selalu di belakang bayangan Foke, jarang terlihat bersuara, apa tanggapan bapak? J: Nachrowi memiliki keterbatasan – keterbatasan, pada saat Foke cuti kerja untuk kampanye, waktu tersebut digunakan oleh Foke. Dan ketika Foke sedang bekerja, Nachrowilah yang bergerak. 5. Dalam beberapa acara debat di terlihat emosional ketika menanggapi kritikan lawannya, apa tanggapan bapak? J: Fauzi Bowo memiliki kepribadian yang baik, dia tidak emosional, hanya tegas dan berwibawa. 6. Strategi apa yang akan dibuat timses Foke untuk putaran ke – 2? J: Strategi dari Foke sendiri melanjutkan program yang telah disusun, sesuai dengan aqidah dan syari’at. 7. Jokowi dikenal merakyat dan tidak korupsi, sedangkan Foke dikenal sebagai pribadi yang keras dan religius. Bagaimana pandangan bapak terhadap image tersebut? J: Masyarakat kita bukan masyarakat yang bodoh, masyarakat kita merupakan masyarakat yang cerdas. Pastinya mereka tau siapakah pemimpin yang sebenar – benarnya. Dan masalah image itu semua tergantung masyarakat yang menilai. 8. Foke di cap masyarakat sudah gagal menjadi gubernur, sekarang bagaimana caranya untuk membangun citra Foke untuk meyakinkan masyarakat? J: Masyarakat yang mengatakan Foke gagal, adalah masyarakat yang menilai dari isu – isu dan tidak mengikuti perkembangan dengan baik. Apabila Foke telah dianggap gagal, maka tidak ada satupun yang memilihnya di putaran pertama kemarin. 9. Apa pandangan bapak melihat pilgub putaran I ? J: Pilgub pertama berjalan seperti waktunya dan masyarakat sendiri bisa memilih siapa yang benar – benar layak untuk menjadi pemimpin Jakarta. II. TIMSES Joko Widodo dan Basuki Hasan Nasbi 1. Seperti apa sosok Jokowi dimata bapak? 2. Apa visi misi Jokowi untuk Jakarta? 3. Strategi apa yang akan dibuat tim sukses Jokowi untuk putaran ke II ? 4. Melihat Jokowi di media, media meliput Jokowi sedang berjalan – jalan di pasar, makan di warteg, berinteraksi langsung dengan rakyat, apakah itu merupakan strategi marketing politik dari Jokowi? 5. Banyak isu – isu tentang Jokowi dan Ahok mengenai SARA, agama maupun etnis. Bagaimana anda menanggapi isu – isu tersebut dan apa yang akan dilakukan TIMSES agar citra Jokowi Ahok tidak menurun mengenai isu tersebut? 6. Jokowi terlihat sangat dekat dengan rakyat menengah kebawah, sangat ideal, tidak elitis. Apakah itu semua sudah direncanakan terlebih dahulu dan apakah sasaran utama Jokowi adalah masyarakat menengah ke bawah? 7. Jokowi bersilaturrahmi dengan kandidat Gubernur Jakarta Putaran I, apakah itu semata – mata bersilaturrahmi atau adanya negosiasi politik seperti meminta suara hak pilih kepada kandidat – kandidat sebelumnya? 8. Dalam berkampanye, apakah isi pidato Jokowi sudah direncanakan sebelumnya atau spontanitas dan tidak difikirkan sebelumnya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar